Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi puisi

Tak Pernah Ada Malam

Kala matahari tenggelam Benarkah hari berganti malam? Ah, aku rasa matahari hanya dipaksa diam Ia tetap pada porosnya, namun cahayanya semakin legam Seolah-olah ia padam Begitulah skenario alam Percayalah padaku kawan, aku yakin betul matahari hanya dipaksa diam Tampak langit mencakarnya hingga lebam Babak belur menjadikannya hitam Alih-alih tak ingin menghantarkan pesan seluruh makhluk yang terpendam Tak ada malam Yang ada hanyalah Matahari dipaksa diam. (Anyer - Banten)

Hadirmu seperti ombak

Hadirmu seperti ombak Belum sempat aku bersandar Seketika kau menghilang Ijinkan kali ini saja Kita berdiri pada langit yang sama Ada yang ingin kuceritakan Perkara kau tak percaya, tak apa Pun- Jika setelahnya kau tetap memilih pergi Setidaknya kita pernah saling memiliki Walau hanya dalam satu tarikan nafas (JOGJAKARTA)

Kau tahu, tepat satu tahun yang lalu ;

Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Kau dan aku melepas tawa di atas roda dua. Memecah keheningan kota. Menggauli malam selasa Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Dalam canda renyahmu, sesekali kutatap wajahmu dan berseteru dalam kelu (aku siap kau pergi) Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Di belakang, kudekap erat tubuhmu. Angin malam itu menyeru. Kita tak perlu saling menunggu Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Bibirmu berucap semua kan baik saja. Namun aku meragu dan merasa. Aku tahu ini nyata. Kita takkan lagi jadi SATU Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Di langit yang sama, pelataran yang berbeda. Kau dan aku, kini jadi dua. Kau dengannya, aku dengan rahasia Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Rahasia tanpa asa. Peribahasa berbahasa. Kau pergi, dia disini. Mencaci hati yang kau tinggal sendiri Kau tahu, tepat setahun yang lalu ; Lamunanku morat-marit. Tersadar detik berganti menit, pikiran semakin terhimpit. Kau sisakan sakit ...

Jika setiap satu ?

Percuma saja aku membakar diri, nyatanya kau masih mencintai kegelapan ; Dirinya Tak kan ada lagi cerita, sampai kau benar-benar memerangi candumu EGOIS aku ! Terus memaksa bercahaya Meski diri sendiri merintih Saksikan kau asyik bersembunyi gelap-gelapan Jika setiap satu, kau menyerukan mantranya diantara kita a p a   d o s a k u ? (Monolog sebatang lilin usang)

PERE(m/k)PUAN

Disana ! Diperbatasan kelabu ;  Ada perek Berhidung pesek Sedari pukul sebelas merengek Mengiba digesek S E K . S E K S . Namanya Jasmine, manusia dusun seberang memanggilnya JAMILA. Kemarin dia bukan perek, dia masih perempuan. Malam ini dia perek, menjelma jadi JAMILA - Jatuh miskin lagi. Pejantannya pergi, cari bini punya harta. Roh-nya pergi, memburu tuan baru. Tubuhnya tidak bisa pergi, terperangkap menyatu. S E K S I.

Perempuan, Buku dan Kopinya

Ada perempuan Duduk bergerombolan dengan manusia yang sejenis dengannya Sengaja merias diri di depan khalayak ; Tertawa ringkik Beberapa diantaranya bisik bisik Menamakan dirinya kaum asik Aku melihatnya, JIJIK- Kedai Kopi, (permaisuri rambut ikal) Hampir satu jam saya puas melihat mereka dari seluruh sudut pandang. Ya, saya duduk di sudut ruangan, siku-siku. Entah sudah berapa kali saya mengusap-usap telinga karena kegaduhan mereka. Berisik itu bukan asik -

kau, si KETERBATASAN

Keterbatasan, ia adalah ketidak mampuanku mengantarkan impian dalam gerbang penyempurnaan. Kereta ciujung, raboe duapuluhaprilduaribusebelas Aku tersesat Berdiri diatas lahan entah milik siapa Milikku ? Milikmu ? Menyelami relung ambisi Obsesi yang terlewatkan Angan berhembus tak menyapa kata, fakta Aku-Mau-Itu ! Kataku aku mampu Kataku aku mau Kataku aku maju Namun katanya, aku tak mampu tak mau tak maju Si keterbatasan- Ia yang berseru padaku Aku-Mau-Itu Dongeng lama ; Aku tak mampu tak mau tak maju KARENA AKU TERSESAT DALAM KETERBATASAN

Elegi Merapi 2010

27 oktober 2010 Aku punya cerita ! Lebih dari dua ribu dua belas kata Sial sial sial Kali ini bukan apa yg dilihat mata secara asal Tapi, CK – Ini negri, negri yang menunggu maranatha istri dipaksa tunggu jadi janda.lihat pejantannya mati di seberang mata Gadis kecil juga terburu mati,padahal belum menstruasi ; belum jadi gadis jelita Si lanang sudah dijemput paksa, tetap : masih belum sempat sunat Tapi, CK - Disini ada ribuan keping recehan, entah dari mana berasal Lembaran uang ribuan lusuh juga sudah tersusun dalam kardus kumal setiap sisinya ada guratan pena biru, UNTUK KORBAN AMAL Korban di subuh ini, bukan korban tembakan bom molotof Kalau di area tinju, mungkin korban membabi buta kick-off Andai disini ada cahaya infra merah, pasti tergambar hijau seperti padang golf Padahal bukan, disini sedang ramai syahadad lirih menjerit volume soft Entah mimpi apa aku semalam, padahal mentari baru saja intip dunia Tengok landas kanan kiri...

keping perak, HARGA MATI

--> Bangunkan aku,disaat mungkin nafasku akan tersisa sepenggal tuk esok Bangunkan aku,pabila mataku kian lekat dengan pejamannya Bangunkan aku,pabila cakrawala masih mengerutkan dahinya yang kucium mesra semalam Bangunkan aku,hai jiwa-jiwa gersang yang menagih janji Mereka bicara dengan mata yang tak dapat mendengar sesenggukan basah kami Mereka melihat dengan telinga yang beradu dengan sayup gemerlap hati Mereka mendengar dengan sekat ironi kematian yang membias Mereka meraba darah kami dengan riak pekat yang sengaja terlempar sayup Biarkan saja daging ini memutih perlahan ! Bila perlu,sampai berubah sperti barisan balok keramik dalam bibir mereka Aku yakin, salamku dibiarkan menjadi kerak Walau sampai menanti giliran tangisku habis, itu pun masih percuma. Kami hanya jadi penonton pesta gelak tawa mereka Bebaskan kami,bebaskan jeritan-jeritan kami yang tak berarti tapi punya nyali Intip kami, intip babak perjalanan kami den...

Jeritku Terjerat

lihatlah, ia menangis namun tak kuasa berkata padamu Diriku ada, karna lautan itu Lautan yang bermuara di dermaga,dinding rahim perempuan itu Diriku pun tiada, karena lautan itu Lautan yang tergesa merambas, berizin perlahan menjadi ragaku Yang menginap di kantung kulit cembung,masih dengan perempuan itu Ya,, Memang aku menginap,di sisik ventral yang sewarna oleh sebuah garis terbalut kelambu ari, menyelami danau ketuban hangat aku tenang, hai perempuan yang kupinjam sejenak raganya aku nyaman dan enggan beranjak terlalu cepat,sebelum waktu ku tiba esok sebab denyut jantungku ini ramai, menemani ku yang kesepian genderamnya bak malaikat yang menari latin kelas atas terlalu nikmat tuk diperdengarkan Tetapi,, Kau lebih maha dewa,dari apa yang lidah-lidah puja selama ini Kau ciptakan aku , kau pun binasakan ku jua Jemariku merapat seketika, dikala benang-benang dinding tempatku hendak dilahirkan itu berbisik perlahan Ssssst !! waktumu sudah selesai Cukup...