Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cinta cinta

Hadirmu seperti ombak

Hadirmu seperti ombak Belum sempat aku bersandar Seketika kau menghilang Ijinkan kali ini saja Kita berdiri pada langit yang sama Ada yang ingin kuceritakan Perkara kau tak percaya, tak apa Pun- Jika setelahnya kau tetap memilih pergi Setidaknya kita pernah saling memiliki Walau hanya dalam satu tarikan nafas (JOGJAKARTA)

Nada Sambung Tanpa Penelepon

Lagi seneng-senengnya denger Cinta Mati 3 - Mulan Jamila di youtube. Kebetulan, saya sedang sendirian di kantor. Maklum, tim sales sedang meeting marathon ke Cikarang. Balik lagi ke topik lagu, ngerasa lagi pas banget sama isi hati, pengen banget 'dia' paham lagu ini ketika menelpon saya. Nah, entah kenapa, saya reflect mau googling kode yang sesuai dengan provider. Eh, yang namanya entah kenapa, ujung-ujungnya pasti entah kenapa juga. Entah kenapa, saya baru sadar, kalo dia tidak mungkin mau melepon saya seperti dulu-dulu. Mengangkat telepon saya saja, sudah tidak pernah. #TepokJidadDeh Lucu sih, kok ke-seret ke moment-moment 4  - 5 tahun yang lalu. Ngerasa kesepian banget. Untuk mengantisipasi kesepian, saya lebih sering menulis. Sukur-sukur orangnya mau mampir ke blog. Saya rasa sih nggak mungkinlah. Dan, ujung-ujungnya saya sekarang nulis lagi. Mungkin saya jadi akan rajin nulis. Semakin sering saya kesepian, semakin sering juga saya menulis di sini...

Dalam memilihmu, aku pun melihat

Suatu hari, saya pernah merungut pada TUHAN. Memohon dikirimkan seseorang di masa lalu, namun dengan sosok yang berbeda. Pertanyaan yang selalu saya pertanyakan pada TUHAN. Hanya satu, dan itu- itu saja. Pria berhati lembut - Dan ternyata, saat ini saya dipertemukan dengan dia. Pria dewasa keturunan Tionghoa bernama Mario. Tionghoa. Seperti menjilat ludah sendiri. Saya kerap menundukkan kepala disaat beberapa teman melontarkan pertanyaan yang sama setiap harinya dengan membabi buta. "Pacar lo sekarang chinese? Katanya lo nggak mau kalo bukan sama-sama Batak ! Jilat ludah sendiri kan lo! " Kalau dipikir-pikir, sederhana saja. Ini hanya perkara pilihan. Memilih bersikeras mempertahankan ideologi yang memenjara kebahagiaan jiwa atau memeluk erat kebahagiaan dengan meruntuhkan benteng yang entah siapa nantinya yang menghakimi. Andai hidup dapat memilih perjalanan sesuai ketukan hati, mungkin terasa terlalu tawar. Mau tidak mau, kita harus siap melen...

Masih ada pisau yang menjaga

Satu hal yang sangat menyakitkan menjadi orang kuat adalah tidak satu orang pun peduli untuk bertanya padamu, "apakah kamu terluka?" Saya teringat dengan sebuah percakapan kecil dengan seorang Pendeta di bulan Juli 2013. Sedikit terdengar 'asing' ya, seorang saya bertukar pikiran dengan seorang pemuka agama. Tapi ya kembali lagi, manusia tetaplah manusia. Selalu ada sisi hitam dan putih. Okay, singkat cerita. Pada saat itu, seperti biasa, hari Sabtu malam (malam Minggu) saya menghadiri sebuah pendalaman Alkitab di Gereja. Entah beruntung atau tidak, saya adalah jemaat pertama yang hadir sangat awal. Tidak seperti biasanya, saya selalu menjadi 'guess star' lantaran terlambat hadir. Tibalah percakapan kecil yang cukup memecahkan suasana kikuk antara saya dan Pak Pendeta... Pendeta : Karunia apa kabar? Saya       : Baik Pak. Bapak sendiri? Pendeta : Puji TUHAN baik. Saya senang kamu sudah pulang. Saya       : Hah kok Bapak tau sih sa...

You ain't seen nothing like me yet

Saat dunia membaca keceriaanku adalah gambaran hati yang seutuhnya. Namun sesungguhnya ada serpihan yang masih ku bawa kemanapun kaki ini melangkah. Bersikeras membuat dunia menganggapku dalam keadaan baik, meski dalam hati ada kekosongan yang belum terisi. Disini, aku berteriak. Sadarilah, hanya ini tempatku mengadu, menelanjangi diri dalam semak-semak kepalsuan. Pahamilah. Aku sadar, kepedihanku saat ini tak bisa kubagi. Karena kau pernah hadir, meski sesaat. Dan kabar terakhir kudengar, kau akan mengarungi hidup bersama dia yang lain. Pergilah. Meski yang masih terngiang dalam benakmu hanyalah isak tangisku. Salam, Perempuan yang pernah kau titipkan namamu.

I Need You, NOW !

Terlalu banyak hal yang terjadi. Kulalui dan kuhadapi. Tanpa kau. Meski setiap malam aku kerap berteriak, memanggil namamu. Merindukan bahumu, menantikan sandaran yang telah lama hilang. Andai kau tahu, aku akan jauh lebih kuat jika kau ada disini. Meski kita sama-sama tak pernah tahu apa jalan keluar dari setiap permasalahan yang kuhadapi di luar sana. Namun berbagi denganmu, itu lebih dari cukup. Air mataku tidak akan jatuh sampai ke bumi. Karena, aku yakin jemarimu akan menyeka air mataku. I need you, now...

Only.

aku rindu Kapan kita bertemu?

Orang itu saja

“Namun, ternyata, jika seseorang hanya memikirkan seseorang, bertahun-tahun, dan dari waktu ke waktu mengenai isi hatinya sendiri dengan cinta hanya untuk orang itu saja, maka saat orang itu pergi, kehilangan menjelma menjadi sakit yang tak tertangguhkan, menggeletar sepanjang waktu." - Andrea Hirata

When I was your (wo)man

“Cinta pertama itu tetap unggul, mencakar-cakar kerinduan dan kenangan, menyembunyi dan merahsiakan sebahagian keanehannya, dan akhirnya menjadi sukar dimengerti, apalagi disambung" Satu suku. Satu TUHAN. Bertahun-tahun lamanya bersama. Saya tersungkur dan terjerembab dalam duka ketika menyadari seseorang yang lalu tidak sama seperti Pria Inisial H.  Pria yang  menyimpan kelembutan tak menepi. Dan kini saya dan Pria Inisial H bertemu kembali. Namun tetap; terpisah.  Tak akan lagi mampu menjadi satu, yang disebut kita.  Terlalu banyak pihak yang tersakiti. Rasanya mustahil tuk kembali bersama.  Yang mampu kami lakukan hanyalah menebus kesalahan yang lalu dengan seseorang yang baru.  Belajar mencinta dengan mereka yang tak mengenal kami. Hanya TUHAN yang tahu, kisah kami hanya sebatas cerita. Hanya menjadi HANYA

BLUR !

"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana." -Tere Liye Mungkin satu kata yang sangat tepat menggambarkan apa yang saya rasakan malam ini adalah BLUR ! Yah, blur. Membayang, berserakan, tidak jelas, buram. yah seperti itulah. Saya rasa anda juga bisa memahami seberapa kalutnya perasaan saya malam ini. Ditengah kebimbangan mengejewantahkan isi hati, saya pun beberapa kali menarik napas, mencoba menenangkan diri sendiri. Saya ingin bicara pada dia, namun tanpa suara. Karena saya tahu, diakhir bercerita, saya akan kehab...

Kata Mrs. Adele, Hiding My Heart

Ku kenakan topeng yang besar, ku pakai Jubah yang hitam dan panjang, aku melompat dan berlari.. Tapi apa aku bisa bersembunyi dari diri ku sendiri? "Butet, Aku udah nggak kuat. Kepala aku sakit. Kamu aku tinggal sendirian disini nggak apa-apa ya. Kamu takut sendirian nggak?" "Nggak apa-apa, Ci." "Wedeh, kamu pemberani juga ya. Bener nih? Ini udah malem loh." "Ci, aku tuh bukan cewe yang penakut, apalagi sama yang namanya Hantu. Beneran deh, Cici istirahat aja." "Yaudah, Aku pulang ya. Itu tugasnya jangan lupa dikerjain di rumah." "Iya Ci, aku begadang deh." 18.00 WIB Kantor (Saya dan Ci Lidya, Head) ***** Percakapan terakhir dengan Head saya. Semula, Ci Lidya (panggilan akrab saya pada beliau) menemani saya menuntaskan tulisan lantaran deadline. Kalau boleh jujur sih, saya risih ditungguin seperti itu. Saya paling nggak suka kalau mengerjakan hal yang bersifat serius harus dilihat apalagi diawa...

Berkemas

“Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.”  ―  Dee ,  Rectoverso Minggu pagi ini, untuk kesekian kalinya saya absen ibadah ke gereja. Kau boleh marah TUHAN, kalau memang anakMu ini selalu menyediakan sejuta alasan untuk tidak gereja. Tapi aku yakin, kau tak akan pernah sampai hati untuk mengutuk. Kau ingat satu janji saya padaMu? Saya tak kan berpaling ke agama lain hanya karena cinta kepada insan yang bukan karyaMu. I love You, Jesus. Okay. Tekad saya sudah bulat. Hari ini saya memutuskan untuk berhenti kost dan kembali menetap bersama orangtua. Tentunya dengan segala pertimbangan yang sudah dilakukan sebelumnya. Dengan menggunakan mobil, saya pun segera memboyong Mama beserta Dua adik perempuan saya, Ebby dan Monic menuju kost saya, Palmerah. Di tengah perjalanan, pertanyaan yang sama masih menghantui sukma. 'Lo yakin Ni, mau berhenti kost? Nggak capek, bolak-balik...

Kalau Jodoh Lo Ternyata Islam, Gimana Tet ?

Pak Hardi :  "Tet, semenjak kejadian kemaren si Bulu ada ngehubungin lo nggak?" Saya : "Nggak Pak" Pak Hardi : "Oh.. Terus gimana kelanjutannya? Ngegantung part sekian dong hubungan lo? Udah kayak jemuran aje lo digantungin mulu, hampir setahun lagi. Tapi nggak apa-apa Tet. Intinya, lo harus belajar dari kejadian ini. Satu hal yang harus lo tanam. Lo jangan pernah sekali-sekali cari dia duluan. Okay?" Saya : "Tapi, bapak jangan marah yah. Sebenernya Pak, waktu dia nelvon si Christie, malamnya saya whatsappin dia duluan" Pak Hardi : "Lah, lo ngapain nyari dia? Kan gw udah ngomong semalem. Kalo dia nyariin lo berarti dia emang memperjuangkan lo, kalo nggak, ya lo tau jawabannya kan? Terus gimana respon dia?" Saya : "Saya kangen Pak. Tapi ternyata  chat nya garing, malah nggak ngebahas masalah kemaren" Pak Hardi : "Yah lo juga sih yang bandel ! Kan gue udah bilang kemarin, cowok tuh jangan dicari duluan. ...

And When the Daylight Comes, Would You Hold Me ?

Senja. Hujan. Deras. Dingin. Kerut. Kantor. Tugas. Deadline. When I miss you, I re-read our old messages and I cry Ini hari Kamis. Pukul Tujuh malam. Sebagian besar rekan kerja saya sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, termasuk boss saya. Buka bersama dengan keluarga, alasan mereka. Berbeda dengan saya yang justru memilih untuk berdiam di dalam kantor lantaran hujan. Sebenarnya, payung selalu tersedia di dalam tas kerja. Hanya saja, saya memang enggan beranjak dari kursi kerja. Saya masih ingin menguras pikiran untuk menulis. Sejak siang, hujan membasahi Ibukota. Jalanan becek. Cuaca di luar sangat dingin. Namun, sebetapa dinginnya cuaca di luar, di dalam ruangan justru lebih dingin. AC faktor utamanya. Hari ini saya mengenakan dress bercorak bunga dengan panjang diatas lutut, ditutupi stocking berwarna hitam. Aduh ! Salah kostum, pikir saya. Kalau tahu akan turun hujan, lebih baik saya mengenakan rok pendek selutut. Tidak perlu menggunakan stocking, mer...

Ayah, pernahkah kau B(AnJING)AN ?

Ayah, Aku rindu Aku memanggil namamu dari tempat ini Sudahkah kau dengar? Ayah, Hampir setengah bungkus kretek terbakar Ah, aku jadi semakin merindukanmu Aroma kretek favoritmu senada dengan kretek favoritku Selera kita senada, Yah Mari bersulang ! Ayah, Bolehkah aku bertanya padamu? Ada hal tabu yang ingin kupertanyakan Jujurlah Jangan lihat aku sebagai anakmu Lihat aku sebagai wanita dewasa Tatap mataku, Yah Ayah, pernahkah kau bajingan? Meninggalkan wanita-wanitamu demi ego? Siapa saja nama mereka? Ayah aku mau bertanya, mengapa kau bertemu Ibu? Bagaimana kau bisa yakin untuk memilihnya? Kata orang, pria lebih menggunakan logika dan menepiskan rasa Lantas ketika memilih Ibu, apa yang kau gunakan? Ayah aku mau bertanya, mengapa kau biarkan bulu-bulu halus itu memenuhi wajahmu? Apakah untuk menakuti mereka yang tak kau cinta? Sampai-sampai aku pun kerap takut memandang wajahmu dikala kau murka Ayah aku mau bertanya, pernahkah kau bermimpi memiliki...