Skip to main content

Posts

TUHAN, Pakailah Ragaku untuk Melayani

Semakin diberi waktu untuk mengenal TUHAN lebih dalam, saya merasa diri ini semakin harus melayani. Entah apa yang menyebabkan pikiran 'hidup saya tidak lama lagi' selalu berkeliling dalam benak, tapi yang pasti, saya selalu berpikir bahwa apa yang sudah saya lakukan selama ini, yang menurut saya benar adalah sia-sia. Sampai pada moment, saya meminta hikmat pada TUHAN untuk dipakai melayani. Saya berdoa "Ya TUHAN YESUS, terlalu banyak hal sia-sia yang telah hamba lakukan. Perayaan hari kelahiran-Mu akan dirayakan sesaat lagi, ijinkan hamba melayaniMu di tahun 2017 ini. Amin". Sebenarnya, saya suka melayani. Dari jaman masih sekolah, saya kerap tampil sebagai MC dalam setiap ibadah di sekolah. Namun seiring berjalannya waktu dan diselimuti oleh pergaulan yang kurang baik, saya semakin mengikuti arus. Fatalnya, saya sampai berpikir bahwa semua orang yang ada di gereja adalah MUNAFIK. Semakin kesini, saya disadarkan bahwa manusia adalah makhluk tidak sempurna...

Bunda Maria, Lihat Hamba ini.

Sore ini, sepulang membuat SIM A & C di Daan Mogot, saya mendapat telepon dari pihak Gereja St. Monica. Percakapan yang memecahkan air mata saya. Masih dengan Bapak Joko. J : Ibu, saya sudah bicara dengan Romo mengenai pembabtisan Putri Ibu. Dan Romo bersedia membantu. S : Puji TUHAN Pak. Terima kasih atas infonya. J : Tapi Bu, untuk proses pembelajaran Ibu secara Katholik, kami menemui kesulitan. Karena Ibu sedang Talak Gereja. Ibu menikah secara pemberkatan. Kalau Ibu menjadi Katholik, otomatis Ibu menerima sakramen dan pernikahan Ibu berlaku seumur hidup. S : Saya memang menolak untuk berpisah Pak. J : Ibu, coba bicarakan dengan ketua lingkungan ya, sebaiknya seperti apa. Air mata saya pecah. Saya menangis sepanjang perjalanan pulang. Dan saya memutuskan untuk ke Gereja St. Monica. Bukan untuk bertemu dengan Bapak Joko, namun untuk berdoa. Gereja kala itu gelap karena memang pukul 18.00 WIB. Dan hanya saya yang berada di dalam gereja. Saya berlutut, saya mena...

Ibu, Pernikahan adalah Misteri !

Kembalinya membeli rosario, saya mengajak Mama dan buah hati saya, Mercy, ke gereja St. Monica BSD untuk mendaftarkan diri sebagai umat. Saya bergegas ke ruangan sekretariat dan bertemu Bapak Joko. Akhirnya saya mengutarakan niat tulus saya untuk membabtis Mercy secara Katholik namun dengan sebuah situasi khusus, yakni tanpa sosok Ayah. Dan terjadi sebuah percakapan : J (Bapak Joko) S (Saya) J : Ibu, mengapa anda mau membabtis Putri Ibu secara Katholik ? S : Saya ingin bertanggung jawab atas janji pernikahan saya di Altar Pak, bahwa saya akan mendidik anak secara Katholik. J : Mengapa Ibu ingin pindah Katholik ? S : Saya pindah bukan karena paksaan Pak. Saya tulus ingin mendidik anak saya secara Katholik. Dengan situasi seperti ini, kemana anak saya akan mengadu ? Saya yakin, jika di dalam keluarga ada 'satu hati', pasti TUHAN hadir. J : (Sambil tersenyum) Ibu, saya akan bantu untuk menyampaikan kepada Romo. Sebenarnya, kami pernah menghadapi hal yang sama, sang...

Jatuh Hati pada Rosario

Banyak orang yang mengatakan bahwa menganut sebuah kepercayaan itu jangan karena paksaan atau ikut-ikutan, namun karena 'panggilan'. Tapi, jangan berpikir bahwa ketika kita menyelami sebuah kepercayaan, hidup semakin indah dan tanpa liku. Benar saja. Setelah beberapa tahun 'kekeuh' menjadi umat Kristiani, saya akhirnya terpanggil menjadi umat Katholik. Awalnya memang saya akui, karena demi keselamatan rumah tangga saya. Tapi dorongan iman saya luar biasa kuat sehingga saya membulatkan tekad tersebut. Sebenarnya akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya seperti sedang masa 'Puber' atau pencarian jati diri. Berbagai gereja saya pelajari tata ibadah dan pengajarannya. Namun sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk menganut iman kepercayaan Katholik. Satu jawaban yang membuat saya sangat yakin menjadi umat Katholik, yaitu PERTANGGUNG JAWABAN IMAN di akhirat. Saya teringat dengan janji pernikahan saya di Altar gereja St. Anna, Duren Sawit. Yang kurang leb...

Surat Cinta Untuk Mario #11

Sampai pada akhirnya, aku tidak pernah melihat 'dia' morat-marit di benakku ketika aku sendiri. Aku bahkan sudah tidak pernah mendengar suaranya. Yang lebih parahnya, aku memohon pertolongan TUHAN agar segera mengenyahkan bayangannya. Aku sudah lelah menanggung semua ini. Banyak orang yang berkata, kok takut menyandang gelar janda. Toh sampai detik ini, kamu pun nggak pernah nanya kabar Mercy. Aku berpikir, percuma saja aku bercerita kepada mereka yang tidak merasa. Ini hanya menjadi pertanyaan bagiku dan sedihnya ketika aku pun tidak tahu apa jawabannya. Selama ini aku selalu berdoa agar TUHAN berkenan mengubahku dan mengembalikan Rumah Tangga kita dengan iman yang baru. Tapi hati kecilku merasa TUHAN berkata agar aku mengubah doaku. Mario, dimana pun kamu berada. Kalau kamu tahu. Kamu adalah seseorang yang aku selalu doakan saat aku ada di rooftop kost Mbak Ndar, dulu. Meski aku belum mengenalmu, tapi 'kesakitan' bathinmu adalah satu-satunya pint...

Surat Cinta Untuk Mario #10

Hai Suamiku Paulus Mario Putra Chandra. Apa kabar? Hari ini aku mau mengucap syukur karena TUHAN berkenan memberi aku kesempatan untuk interview user. Nah ada satu cerita yang diluar dugaan aku. Disaat perjalanan ke sana, baru banget aku lewatin bengkel Bokap, eh aku jatoh dari motor. Padahal aku udah pake helm, eh helmnya terpelanting. Untung nggak ada truk di belakang aku, kalau adaaaa. Wah lain cerita deh. Saat aku jatuh, ada seorang Bapak yang nolong aku. Bantu aku berdiri. Buat aku, luar biasa banget. Masih ada yang mau peduli sama aku, padahal aku sama sekali nggak kenal Bapak itu. Tanpa berlarut dalam kesakitan, aku meneruskan perjalananku. Di helm, aku nangis. I don't know why. Maybe I don't know how to tell it all. Aku sedih. Udah, itu aja. Singkatnya, aku interview user deh. Menurutku sih lancar, nggak tahu menurut mereka ya huehue. Tapi kata calon boss aku, tunggu panggilan HRD untuk nego gaji. Semoga keterima deh. Karena kalau udah keterima, aku ...

Surat Cinta Untuk Mario #9

Hai Suamiku, Paulus Mario Putra Chandra. Aku mau curhat ! Aku hari ini interview di TV itu. Cuapek. Aku naeko motor. Sengaja biar tahu ancer-ancerannya. Kaki aku sakit, apalagi paha. Tangan aku juga. Sebenernya waktu berangkat enak, cuma 1 Jam 15 Menit. Tapi pas pulang, aku mau mati. Sampe harus rehat dulu di jalan. Apalagi ini hari Jumat. Dan aku puasa ! LEMEEEEESSSSS.. Pijitin kaki aku dongggg. Aku capeeeee. Doain ya biar aku keterima dan bisa memenuhi kebutuhan Mercy. Walopun jauh, aku nggak mau kost. Aku harus tetap ketemu Mercy. Aku mau belajar jadi Ibu yang baik. Sampai ketemu di mimpi ya. Aku sayang kamu.